Kader Kesehatan Diharapkan Jadi 'Juru Bicara' Kesehatan Masyarakat
ACEH UTARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Utara menaruh harapan besar kepada para kader kesehatan di desa-desa agar menjadi ujung tombak dalam menyuarakan pentingnya kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya menekan angka keterlambatan tumbuh kembang anak. Harapan ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas kader kesehatan yang digelar di berbagai wilayah kecamatan.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Samsul Bahri, SKM., M.K.M menegaskan bahwa kader bukan hanya sekadar relawan kesehatan, tetapi juga berperan sebagai “juru bicara” yang mampu meneruskan informasi penting kepada masyarakat. "Mereka adalah garda terdepan dalam program-program preventif yang digagas Dinas Kesehatan," ujar Samsul Bahri, Kamis (10/7/2025).
Menurutnya, salah satu program prioritas yang sedang digalakkan saat ini adalah Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). Program ini menjadi strategi utama untuk mengidentifikasi sejak dini kemungkinan keterlambatan tumbuh kembang pada anak usia dini. Berdasarkan data Dinkes Aceh Utara, sekitar 3,8 persen anak di kabupaten ini mengalami keterlambatan tumbuh kembang.
“Kader memiliki peran krusial dalam mensosialisasikan kepada orang tua betapa pentingnya pemeriksaan rutin SDIDTK, baik di posyandu maupun fasilitas kesehatan lainnya. Ini bukan hanya kerja tenaga medis, tapi kerja kolaboratif dengan masyarakat,” tambah Samsul Bahri.
Dinkes Aceh Utara juga telah melakukan berbagai pelatihan komunikasi antar pribadi (KAP) kepada kader agar mereka lebih siap dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara efektif dan humanis. Kemampuan komunikasi yang baik dinilai sangat penting agar pesan-pesan promotif dan preventif bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
“Melalui pendekatan yang santun dan memahami kondisi sosial budaya masyarakat setempat, kader akan lebih mudah diterima. Mereka bisa menjadi agen perubahan perilaku kesehatan,” katanya lagi.
Selain peran informatif, kader juga diharapkan mampu menjadi fasilitator layanan. Artinya, mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu mengarahkan masyarakat kepada layanan yang tersedia, termasuk jadwal SDIDTK dan rujukan ke fasilitas kesehatan jika ditemukan indikasi masalah tumbuh kembang.
Dengan jumlah desa di Aceh Utara yang mencapai 852 desa, keterlibatan aktif kader menjadi sangat vital. Pemerintah kabupaten tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi antara tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat demi memastikan anak-anak Aceh Utara tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Dinkes Aceh Utara terus memperkuat kapasitas kader secara berkelanjutan. Kegiatan pelatihan, monitoring, dan supervisi dilakukan secara rutin agar kader tetap semangat dan memiliki pengetahuan yang mutakhir sesuai perkembangan isu kesehatan.
“Ini adalah investasi jangka panjang. Anak-anak yang sehat hari ini adalah generasi unggul Aceh Utara di masa depan. Dan kader adalah jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan hal itu,” tutup Samsul Bahri.[]
ADVERTORIAL
