Dinkes Aceh Utara Prioritaskan SDIDTK di Wilayah Terpencil dan Rentan pada 2025
Aceh Utara – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Utara terus berjuang di sektor kesehatan untuk memperluas jangkauan layanan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), khususnya di wilayah-wilayah terpencil dan kelompok masyarakat rentan sepanjang tahun 2025.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, S.K.M., M.Kes, mengatakan bahwa program SDIDTK merupakan langkah strategis untuk mencegah berbagai gangguan tumbuh kembang pada anak sejak dini, terutama di daerah-daerah yang selama ini kurang terjangkau pelayanan kesehatan berkala.
'Kami menyadari bahwa wilayah terpencil memiliki tantangan tersendiri, baik dari segi akses maupun ketersediaan tenaga kesehatan. Karena itu, tahun ini kita memprioritaskan SDIDTK untuk desa-desa yang masuk kategori sangat terpencil dan masyarakat rentan, agar tidak ada anak yang luput dari pemantauan tumbuh kembang," ujar Jalaluddin, Senin (30/6/2025).
Langkah ini, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya percepatan penurunan angka stunting dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh Utara sejak usia dini. Program SDIDTK akan diintegrasikan dengan kunjungan posyandu, imunisasi, serta program gizi balita yang sudah berjalan.
Kabupaten Aceh Utara yang memiliki 852 desa dan 27 kecamatan menghadapi tantangan geografis yang cukup berat. Banyak desa terletak di pegunungan, pesisir terpencil, hingga pedalaman yang hanya bisa diakses melalui jalan berlumpur atau sungai. Kondisi ini menjadi perhatian khusus Dinkes agar tidak menjadi penghambat pelayanan dasar anak.
"Untuk menjangkau daerah-daerah tersebut, kami sudah menyiapkan skema pelayanan bergerak (mobile health) bekerja sama dengan puskesmas terdekat. Tim kesehatan akan mendatangi langsung masyarakat dan melakukan pemeriksaan SDIDTK di titik-titik terpadu," terang Jalaluddin.
Selain menggerakkan tim keliling, Dinas Kesehatan juga berupaya meningkatkan kapasitas kader posyandu dan bidan desa melalui pelatihan SDIDTK yang lebih terstruktur. Pelatihan ini mencakup teknik pemeriksaan tumbuh kembang, pengisian formulir deteksi dini, hingga keterampilan stimulasi motorik dan kognitif pada anak usia 0–5 tahun.
"Kader dan bidan adalah ujung tombak kita. Mereka yang langsung bersentuhan dengan ibu dan anak di lapangan. Maka peningkatan kompetensi mereka menjadi kunci keberhasilan program," tambahnya.
Menurut data Dinkes, dari sekitar 54.000 lebih anak balita di Aceh Utara, masih terdapat gap layanan SDIDTK di daerah-daerah tertentu akibat keterbatasan tenaga dan logistik. Tahun ini, target layanan dipatok meningkat minimal 20 persen di daerah kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Jalaluddin berharap, dengan intervensi yang merata dan berkeadilan, setiap anak Aceh Utara memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berkembang optimal sesuai usianya.
"Pemeriksaan SDIDTK bukan hanya soal kesehatan, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan generasi kita. Anak yang tumbuh kembangnya terpantau dengan baik, akan lebih siap menghadapi jenjang pendidikan, produktif secara ekonomi, dan tidak menjadi beban negara di masa depan," pungkasnya.
Advertorial
