Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal

00:00
00:00


ACEH UTARA
— Pemeriksaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada anak usia dini bukan sekadar program kesehatan, tetapi sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi bangsa. Hal ini disampaikan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., dalam keterangannya kepada media ACEH ONE, Selasa (1/7/2025).

Menurut Jalaluddin, SDIDTK menjadi upaya penting dalam mendeteksi sedini mungkin adanya keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. "Semakin cepat masalah ditemukan, maka semakin besar peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Ini bukan hanya urusan kesehatan, tapi menyangkut kualitas generasi penerus bangsa," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa usia 0–5 tahun adalah periode emas (golden age) bagi tumbuh kembang anak. Pada fase ini, otak berkembang pesat dan sangat responsif terhadap stimulasi. Oleh sebab itu, program SDIDTK yang menyasar bayi dan balita sangat menentukan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

"Jika hari ini kita mengabaikan deteksi dini, maka dalam 10–15 tahun ke depan kita mungkin melihat dampaknya dalam bentuk rendahnya prestasi belajar, kurangnya produktivitas, hingga tingginya beban sosial. Maka SDIDTK bukan biaya, melainkan investasi yang mendatangkan manfaat besar di kemudian hari," ucapnya.

Di Aceh Utara sendiri, Dinas Kesehatan telah mengintensifkan pelaksanaan SDIDTK di seluruh Puskesmas dan Posyandu yang tersebar di 852 desa. Tenaga kesehatan dilatih untuk melakukan pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan alat ukur dan metode yang sesuai standar Kementerian Kesehatan.

"Orang tua juga memiliki peran vital. Kami dorong mereka untuk rutin membawa anak ke Posyandu, bukan hanya untuk imunisasi, tapi juga untuk pemeriksaan tumbuh kembang. Deteksi dini itu harus dilakukan secara berkala, bukan sekali saja," tambah Jalaluddin.

Program SDIDTK juga menjadi bagian dari strategi penurunan angka stunting yang masih menjadi tantangan di beberapa wilayah. Dengan mendeteksi gangguan pertumbuhan secara dini, intervensi gizi dan stimulasi bisa segera dilakukan sehingga anak tidak terus tertinggal dalam perkembangannya.

Jalaluddin menambahkan, salah satu kekuatan program SDIDTK adalah pendekatannya yang menyeluruh: melibatkan lintas sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat. Di Aceh Utara, koordinasi lintas sektor ini terus diperkuat melalui kolaborasi dengan PKK, kader Posyandu, dan pengelola PAUD.

"Dengan kerjasama yang solid, kita bisa menjangkau lebih banyak anak dan memberikan mereka peluang untuk tumbuh menjadi generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing," ucapnya optimis.

Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melihat SDIDTK sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas kesehatan. "Kita semua punya peran—orang tua, guru, tokoh masyarakat, hingga pemerintah desa. Anak-anak adalah aset bangsa, dan kesehatan mereka adalah fondasi masa depan Indonesia."

Dinas Kesehatan Aceh Utara menargetkan cakupan SDIDTK mencapai 100 persen pada 2026, terutama di wilayah terpencil dan rentan. Jalaluddin menekankan pentingnya komitmen bersama agar target ini bisa tercapai. "Jika kita ingin Indonesia Emas 2045 terwujud, maka SDIDTK harus kita jadikan prioritas sejak hari ini," tutupnya.[]

ADVERTORIAL

Tersalin!

Berita Terbaru

  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal
  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal
  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal
  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal
  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal
  • Plt. Kadinkes Aceh Utara: Deteksi Dini Kunci Tumbuh Kembang Optimal