• Redaksi
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
Aceh One

Mega Menu

  • Home
  • News
    • News
    • Politik
    • Hukrim
    • Ekbis
    • Nasional
    • Olahraga
    • Dunia
  • Daerah
    • Aceh Utara
    • Aceh Timur
    • Bireuen
    • Banda Aceh
    • Pidie Jaya
    • Gayo Lues
    • Lhokseumawe
  • Pemerintah Aceh
    • DSI
    • Disdik
    • DRKA
    • Perindag
    • Budpar
  • Parlementaria
    • Parlementaria
  • Featured
    • Pariwara
    • Opini
    • Profil
  • Indeks
Aceh One
Telusuri
Beranda News Marak Penipu Sedot Rekening, Jangan Lakukan Kebiasaan Seperti Ini
News

Marak Penipu Sedot Rekening, Jangan Lakukan Kebiasaan Seperti Ini

News Editor
News Editor
03 Des, 2023
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 

Ilustrasi Digital Scurity
Jakarta — Ternyata ada kebiasaan sehari-hari yang bikin penipu online lebih mudah melancarkan aksinya. Hal tersebut diungkap Ketua Tim Insiden Siber Sektor Keuangan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sandromedo Christa Nugroho.

Menurut dia, orang yang punya kebiasaan memamerkan aktivitas di media sosial lebih rentan menjadi korban penipuan online. Tak jarang, penjahat siber mengincar data pribadi sensitif yang bisa membobol rekening korban hingga ludes.

"Yang sekarang Gen Z suka banget update [media sosial]. Lagi makan update, lagi di mana update. Sebenarnya memancing serangan untuk bisa mem-profiling seseorang dengan mudah," kata Ketua Tim Insiden Siber Sektor Keuangan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sandromedo Christa Nugroho, dalam acara Peluncuran Gerakan Tanpa Tipu-Tipu, Jakarta, Kamis (30/11/2023).

Dia menjelaskan pelaku bisa melihat nama korban. Berikutnya bisa dicari media sosialnya, misalnya ke Facebook dan dari sana bisa diketahui data keluarganya.

"Contohnya ketemu akun yang pertama saya lihat dari namanya dulu. Itu bisa profiling media sosialnya, kerjaannya. Dari Facebook bisa ke family ya, keluarganya siapa, ayahnya siapa, sampai bisa dapat alamatnya. Biasanya akan melakukan attack, dari penipuan online," jelasnya.

Pelaku akan melakukan profiling korban sedemikian rupa. Jadi serangan yang diberikan akan berhasil dan tidak menjadi useless.

Sandromedo juga menjelaskan laporan serangan siber terus menerus juga mengalami peningkatan. Misalnya dari 2020 ke 2021 kenaikannya mencapai 230%.

"Ini menandakan sebenarnya kita sedang masuk ke transformasi digital. Tapi tidak dilengkapi dengan literasi digital yang baik," ungkap dia.

Dia mengatakan ada beberapa jenis serangan siber. Termasuk salah satunya yang menggunakan sisi humanis dan psikologi dari korbannya.

Dalam kesempatan yang sama, VP Public Relations Blibli, Yolanda Nainggolan menjelaskan kebanyakan serangan berasal dari kesalahan individu itu sendiri. Dia mengutipnya dari laporan World Economic Forum 2022.

"Menunjukkan bahwa 95% masalah keamanan siber ada dari sisi orang," kata Yolanda.

Sumber : CNBC Indonesia

Via News
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Featured Post

Pemkab Aceh Utara percepat peningkatan tipe RSUD dr Mukhtar Hasbi

News Editor- 21.47 0
Pemkab Aceh Utara percepat peningkatan tipe RSUD dr Mukhtar Hasbi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, Provinsi Aceh, mempercepat peningkatan tipe Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Mukhtar Hasbi guna memperkuat layanan r…
Aceh One
Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500-600 kata dan dikirem ke : red.acehone@gmail.com
Copyright © 2021 - , Aceh One.
All right reserved
  • Redaksi
  • Siber
  • Iklan/Advertorial
  • Kode Etik
  • Donasi
  • Terms of Use