Banjir Kemarin itu Teguran Keras Allah SWT Buat Kita Semua
Oleh: Jamaluddin Idris
Bencana banjir bandang yang menerjang pada Kamis, 26 November 2025 lalu, bukan sekadar siklus hujan tahunan yang lewat begitu saja. Harus menjadi peringatan keras bagi kita semua. Kemarin, itu adalah potret duka kolektif yang menyapu hampir seluruh pelosok Aceh, bahkan meluas hingga ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di Aceh sendiri, 18 kabupaten/kota lumpuh total diterjang air bah. Namun, jika kita melihat peta kerusakan, Kabupaten Aceh Utara berdiri sebagai titik terparah, di mana 90 persen wilayahnya terendam dan menyisakan luka yang mendalam bagi warganya.
Sebagai seorang jurnalis, saya terbiasa menuliskan penderitaan orang lain dari balik lensa kamera atau catatan kecil. Namun kali ini, tinta saya basah oleh air yang merendam rumah saya sendiri. Saya bukan sekadar pelapor berita, melainkan korban yang merasakan langsung betapa dingin dan ganasnya arus banjir setinggi 3,5 meter. Rumah saya hanya menyisakan atap, seolah menenggelamkan seluruh sejarah dan usaha yang kami bangun bertahun-tahun di dalamnya.
Kejadian di Desa Matang Seuke Pulot, Kecamatan Tanah Jambo Aye, menjadi saksi bisu betapa nyawa terasa sangat murah di hadapan amukan alam. Saya menyaksikan sendiri bagaimana penyelamatan bayi dan anak-anak berlangsung penuh dramatis di tengah kepungan air setinggi 3 meter lebih. Dalam kepanikan itu, harta benda tak lagi bermakna; yang ada hanyalah ikhtiar bagaimana keluarga bisa tetap bernapas dan selamat dari kejaran air yang merambat naik dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Hingga detik ini, trauma itu masih mengakar kuat di ingatan. Setiap kali memejamkan mata, saya masih bisa mendengar suara gemuruh air yang memporak-porandakan pemukiman dan melihat bayangan rumah-rumah yang hancur dalam hitungan jam. Meski raga kami selamat, guncangan psikis akibat kehilangan tempat bernaung dan menyaksikan keputusasaan sesama warga adalah beban yang tak mudah untuk dipulihkan dalam waktu singkat.
Namun, di balik rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT atas keselamatan nyawa keluarga, ada sebuah pertanyaan besar yang menghantui nurani kita. Jika bencana sedahsyat ini tidak mampu membuat kita berhenti sejenak untuk merenung, maka seberapa keras hati kita sebenarnya? Banjir ini bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem, melainkan teguran keras sekaligus peringatan nyata bahwa iman dan kemanusiaan kita sedang diuji.
Kita sering kali dengan mudah menyebut ini sebagai "musibah dari Tuhan", namun seringkali lupa pada bagian "akibat ulah tangan manusia". Kitab suci telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah hasil dari perbuatan manusia itu sendiri. Kita adalah aktor utama dalam drama kehancuran ini, di mana keserakahan sering kali mengalahkan akal sehat dan kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem.
Gundulnya hutan-hutan di hulu dan eksploitasi gunung-gunung yang tak terkendali adalah alasan mengapa air tak lagi menemukan jalan pulang ke tanah. Tangan-tangan serakah yang menebang pohon tanpa pikir panjang telah mencabut "jangkar" bumi, membuat serapan air hilang dan mengubah aliran hujan menjadi mesin penghancur bagi warga di hilir. Kita seolah sedang mengundang maut ke pintu rumah kita sendiri melalui kebijakan dan perilaku yang merusak alam.
Aceh Utara yang menjadi wilayah terparah seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Persentase kerusakan yang mencapai 90 persen menunjukkan bahwa ada sistem pertahanan alam yang sudah jebol. Kita tidak bisa lagi terus-menerus menggunakan alasan "curah hujan tinggi" sebagai tameng pembenaran atas kegagalan kita menjaga kelestarian hutan dan tata ruang wilayah.
Sebagai masyarakat yang menjadi korban, saya menuntut adanya perubahan cara pandang dalam mengelola alam. Mitigasi bencana tidak boleh hanya berhenti pada pemberian bantuan logistik atau evakuasi saat air sudah tinggi. Perlu ada tindakan tegas terhadap pembalakan liar dan pemulihan kawasan hutan yang telah gundul. Jika tidak, maka kita hanya sedang menunggu waktu untuk tenggelam dalam bencana yang lebih besar di masa depan.
Pada akhirnya, banjir bandang 26 November ini adalah pesan terbuka bagi kita semua. Musibah ini adalah teguran agar kita kembali pada fitrah sebagai penjaga bumi, bukan perusaknya. Semoga kehilangan harta benda yang kita alami menjadi penebus dosa atas kelalaian kita selama ini, dan semoga hati kita tidak sekeras kayu yang ditebang dari hutan-hutan terlarang, agar kita mampu belajar sebelum alam benar-benar kehilangan kesabarannya.[]
